Selasa, 29 Oktober 2013

KEPEMIMPINAN

Diposting oleh Unknown di 09.15 0 komentar
Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang kepemimpinan dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara  berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
Sejarah timbulnya kepemimpinan, sejak nenek moyang dahulu kala, kerjasama dan saling melindungi telah muncul bersama-sama dengan peradapan manusia. Kerjasama tersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan binatang dan menghadapi alam sekitarnya. Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi kerjasama antar manusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin dari kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga ada aturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus lahir dari keturunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai pengaruh dan lain-lain. Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki syarat-syarat yang tidak ringan, karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.

Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Definisi Kepemimpinan menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. Kepemimpinan menurut Young (dalam Kartono, 2003) lebih terarah dan terperinci dari definisi sebelumnya. Menurutnya kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Dalam teori kepribadian menurut Moejiono (2002) memandang bahwa kepemimpinan tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang kepemimpinan sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Pengentian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan pemimpin artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. (Mefta Thoha, 1983)
Dalam mendeteksi siapa si pemimpin ada 2 kriteria (Soejono Trimo, 1986)
1.     Jumlah pengaruh orang atas anggota dan kelompoknya.
2.    Sikap para anggota kelompok terhadap sesamanya
Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan tampilnya seseoang /beberapa orang pememimpin dalam suatu kelompok:
1.     Pertumbuhan dan kekomplekan kelompok itu.
2.    Bila kelompok menghadapi krisis.
3.    Bila kelompok dalam keadaan tidak stabil.
4.    Bila pemimpin lama gagal menjalankan fungsinya.
5.    Timbulnya kebutuhan-kebutuhan pribadi pada anggota kelompok.

Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas dalam rangkah mempengaruhi orang-orang agar mau bekerjasama mencapai suatu tujuan yang memang
diinginkan bersama. (Susilo Martoyo, 1990).

Dalam organisasi/perusahaan yng besar, kepemimpinan terbagi dalam 3 stara utama, yakni:
1. Top management: yang tekanan tugasnya pada pelaksanaan administrasi dalam menyusun rencana,policy dan laporan terdiri dari  pada direksi.
2. Middle management:  eksekutif pelaksanaan rencana dan policy organisasi terdiri dari kepala bagian.
3. Operating management: eksekutif dilapangan yang terdiri dari kepala-kepala unit pelaksanaan, para pengawas dilapangan.
Dalam organisasi formal kekuasaan dan tanggung jawab manajerial dapat di bagi dalam 2 komponen (areas) yang besar, yakni:
Administrasi
Pelaksana (execution)
Dengan pembagian kegiatan-kegiatan mereka sebagai berikut:
Dewan Direktur
Direktur /Presiden
Perusahaan
Wakil Direktur
Managers (Kepala Bidang/Bagian)
Line Supervisor
(pengawas)
Foreman (mandor)

Seorang pemimpin ataupun exsekutif seyogianya memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar:
1. Teknis : paham dan kompeten dalam kegiatan atau area tertentu yang menyangkut prosedur, teknik dan prosedur pengelolaanya.
2. Menguasai humor skills: mampu bekerja sama dengan orang lain sebagai bagian dari kelompoknya.
Keterampilan konseptual, sebagai organisasi sebagai suatu system dalam berbagai fungsi organisasi saling tergantung.
3. Komunikatif, terampil berkomunisasi dengan orang lain.

Ciri-Ciri Pemimpin
Sondang P. Siagian  mencirikan kepemimpinan tersebut sebagai berikut:
   Pendidikan umum yang luas. Seorang pemimpin adalah seorang generalis yang baik sehingga mempunyai kemampuan untuk mengembangkan managerial skill yang di tuntut oleh tugasnya.
   Kemampuan berkembang seara mental. Seperti halnya dengan seseorang, termasuk pemimpin harus tumbuh secara mentalsehingga terhindar dari proses stagnasi dalam kehidupan kepemimpinan.
   Ingin tau yang tetap dalam dunia adalah perubahan. Kesadaran akn perubahan-perubahan tersebut akan menghantarkan seorang pemimpin menjadi kreatif  dan inovatif.
   Kemampuan analisis. Syarat sukses seorang pemimpin adalah kemampuanya dalam menganalisis situasi yang dihadapi dengan cermat mantap dan matang.
   Memiliki daya ingat yang kuat . kekuatan daya ingat yang mantap akan mampu menghantarkan pemimpin tersebut menjadi cermat dalam proses dan menjaring informasi yang relevan.
    Kapabelitas integratif. Dengan Kapabelitas integratif yakni kemampuan yang mencakup berbagai aspek sangat membantu  pemimpin tersebut untuk menggerakan roda administrasi organisasi.
   Keterampilan berkomunikasi. Efektivitas seorang pemimpin adalah sangat ditentukan oleh keterampilannya dalam berkomunikasi.
   Keterampilan mendidik. Pemimpin juga seorang pendidik ketika bawahan menghadapi kesulitan bertugas, ia cenderung minta petunjuk kepada
atasanya tentang cara memecahkan persoalan tugasnya.
   Rasionalitas dan objektivitas. Pemimpin harus rasional dan objektif tidak boleh emosional sehingga keputuan yang akan di ambil selalu tpat.
10. Pragmatis. Pemimpin sellalu menghendaki agar keputusanya bias
dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada.
11.  Sense of urgency. Seorang pemimpin mesti mampu mengatur prioritas-prioitas, mana yang penting dan mana yang tidak penting.
12. Sense of cohesiveness. Merasa satu dengan yang dipimpin, kolega dan atasan, sangat penting untuk pengembangan kerja sama, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi.
13. Sense of relevance. Pemimpin perlu selalu mengkaitkan keputusan dengan tujuan yang hendak dicapai/persoalan yang akan dipecahkan.
14. Kecerdasan. Syarat mutlak seorang pemimpin agar bias diteladani adalah adanya nuansa kewajaran dan kesederhanaan dalam perilakuke seharianya.
15. Keberanian. Keberanian adalah modal bagi pemimpin dalam menghadapi segala tugas dan tanggung jawab yang dbebankan kepadanya.
16. Adaptabelitas dan fleksibilitas. Pemimpin tersebut harus menghindarkkan diri dari sifat kekakuan karena akan mengganggu kinerja kepemimpinanya.
17. Kemampuan mendengar. Pemimpin harus siap mendengar saran/pendapat orang lain.
18. Ketegasan. Pemimpin tersebut mesti tegas dalam mengahdapi bawahan serta ketidaktentuan demi stabilitas organisasi.
Teori-Teori Lahirnya Kepemimpinan
Ada tiga teori yanga membahas tentang timbulnya kepemimpinan.
       1.      Teori genetis (Hereditary theory)
Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan denagan bakat-bakat kepemimpinan”leaders are born and not made”
      2.      Teori sosial
Merupakan kebalikan dari teory genetis, yaitu bahwa setiap orang diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
      3.      Teori Ekologis
Bahwa seorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia pada waktu lahirnyatelah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat itu kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang tertur dan
pengalaman-pengalaman yang memungkinkan untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat tersebut.

Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah perilaku yang ditunjukan oleh pemimpin dalam mempengaruhi orang lain. Pola perilaku tersebut bias dipengaruhi oleh beberapa factor seperti nilai-nilai, asumsi, persepsi, harapan, maupun sikap yang ada dalam diri pemimpin. Berbagai kepemimpinan tentang gaya kepemimpinan yang dilakukan para ahli mendasarkan pada asumsi bahwa pola perilaku tertentu pemimpin dalam mempengaruhi bawahan ikut menentukan efektifitasnya dalam memimpin.

Kontinum kepemimpinan
        Teori kontimum tentang gaya kepemimpinan ini merupakan teori klasik yang diperkenalkan oleh Robert Tannenbaum dan Warren Schmidtmengacu pada dua bidang pengaruh yang ekstrim. Yang pertama adalah pengaruh penggunaaan kewenangan oleh pemimpin, sedangkan yangke dua adalah oleh pengaruh kebebasan dari bawahan. Pada kedua bidang pengaruh tersebut Nampak kecenderungan yang berhubungan dengan aktivitas pemimpin dalam pengambilan keputusan.  


STRUKTUR PRODUKSI, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN

Diposting oleh Unknown di 08.47 0 komentar
                                                                          
1.Struktur Produksi
Struktur produksi adalah logika proses produksi, yang menyatakan hubungan antara beberapa pekerjaan pembuatan komponen sampai menjadi produk akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan menggunakan skema. Struktur produksi nasional dapat dilihat menurut lapangan usaha dan hasil produksi kegiatan ekonomi nasional. Berdasarkan lapangan usaha struktur produksi nasional terdiri dari sebelas lapangan usaha dan berdasarkan hasil produksi nasional terdiri dari 3 sektor, yakni sektor primer, sekunder, dan tersier.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan ekonomi struktur produksi suatu perekonomian cenderung mengalami perubahan dari dominasi sektor primer menuju dominasi sektor sekunder dan tersier. Perubahan struktur produksi dapat terjadi karena :
·         Sifat manusia dalam perilaku konsumsinya yang cenderung berubah dari konsumsi barang barang pertanian menuju konsumsi lebih banyak barang-barang industri
·         Perubahan teknologi yang terus-menerus, dan
·         Semakin meningkatnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.
Struktur produksi nasional pada awal tahun pembangunan jangka panjang ditandai oleh peranan sektor primer, tersier, dan industri. Sejalan dengan semakin meningkatnya proses pembangunan ekonomi maka pada akhir Pelita V atau kedua, struktur produksi nasional telah bergeser dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder.

2.Pendapatan Nasional
a)    Pengertian Dari Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun.
b)   Cara Perhitungan Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Produksi (GDP)
GDP (Gross Domestic Product) atau Produksi Domestik Bruto adalahpendapatan nasional yang nilainya dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh kegiatan produksi yang dilakukan oleh semua pelaku/sektor ekonomi di wilayah Indonesia, dalam kurun waktu tertentu.
c)    Cara Perhitungan Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Pengeluaran (GNP)
Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
d)   Cara Perhitungan Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Pendapatan (NI)
NI (National Income) adalah pendapatan nasional yang nilainya didapat dengan cara menjumlahkan semua hasil atau pendapatan yang diperolehsemua pelaku atau sektor ekonomi di Indonesia dalam kurun waktu tertentu.
Rumus :        NI = GNP – Depresiasi – Pajak tidak langsung
NI = GDP – Depresiasi – Pajak tidak langsung
e)   Pendapatan Naional Yang Dapat Dibelanjakan (Y Disposible)
Yang dimaksud dengan pendapatan nasional (Y) disposible adalahpendapatan nasional yang telah siap untuk dibelanjakan. Nilai Y disposible ini berasal dari NI (National Income) setelah ditambah dengan pengeluaran pemerintah berupa transfer atau subsidi dan kemudian dikurangi dengan pajak langsung yang ditetapkan pemerintah. Jika ditulis dalam rumus, nilainya diperoleh dari :
Y disposible = NI + Tr –Tx langsung, dimana
        Tr = Goverment Transfer, subsidi pemerintah
        Tx= Pajak Langsung
f)    Pendapatan Nasional per Kapita
Pendapatan Nasional Per Kapita yaitu Pendapatan Nasional dibagi dengan (GNP atau GDP) dengan jumlah penduduk di suatu negara.

3.Distribusi Pendapatan Nasional dan Kemiskinan
a.    Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia
Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas (ketimpangan) distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan.Tidak meratanya distribusi pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari munculnya masalah kemiskinan. Membiarkan kedua masalah tersebut berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan, dan tidak jarang dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kondisi sosial dan politik.
Masalah kesenjangan pendapatan dan kemiskinan tidak hanya dihadapi oleh negara sedang berkembang, namun negara maju sekalipun tidak terlepas dari permasalahan ini. Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya tingkat kesenjangan dan angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara. Semakin besar angka kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya.
Negara maju menunjukkan tingkat kesenjangan pendapatan dan angka kemiskinan yang relative kecil dibanding negara sedang berkembang, dan untuk mengatasinya tidak terlalu sulit mengingat GDP dan GNP mereka relative tinggi. Walaupun demikian, masalah ini bukan hanya menjadi masalah internal suatu negara, namun telah menjadi permasalahan bagi dunia internasional.
Berbagai upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh dunia internasional, baik berupa bantuan maupun pinjaman pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk memperkecil kesenjangan pendapatan dan tingkat kemiskinan yang terjadi di negara-negara miskin dan sedang berkembang. Beberapa lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya berperan dalam hal ini. Kesalahan pengambilan kebijakan dalam pemanfaatan bantuan dan/ atau pinjaman tersebut, justru dapat berdampak buruk bagi struktur sosial dan perekonomian negara bersangkutan.
Perbedaan pendapatan timbul karena adanya perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dan faktor produksi terutama kepemilikan barang modal (capital stock). Pihak (kelompok masyarakat) yang memiliki faktor produksi yang lebih banyak akan memperoleh pendapatan yang lebih banyak pula. Menurut teori neoklasik, perbedaan pendapatan dapat dikurangi melalui proses penyesuaian otomatis, yaitu melalui proses “penetasan” hasil pembangunan ke bawah (trickle down) dan kemudian menyebar sehingga menimbulkan keseimbangan baru. Apabila proses otomatis tersebut masih belum mampu menurunkan tingkat perbedaan pendapatan yang sangat timpang, maka dapat dilakukan melalui sistem perpajakan dan subsidi.
Penetapan pajak pendapatan/penghasilan akan mengurangi pendapatan penduduk yang pendapatannya tinggi. Sebaliknya subsidi akan membantu penduduk yang pendapatannya rendah, asalkan tidak salah sasaran dalam pengalokasiannya. Pajak yang telah dipungut apalagi menggunakan sistem tarif progresif (semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi prosentase tarifnya), oleh pemerintah digunakan untuk membiayai roda pemerintahan, subsidi dan proyek pembangunan. Dari sinilah terjadi proses redistribusi pendapatan yang akan mengurangi terjadinya ketimpangan.
Tingginya Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara belum tentu mencerminkan meratanya terhadap distribusi pendapatan. Kenyataan menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat tidak selalu merata, bahkan kecendrungan yang terjadi justru sebaliknya. Distribusi pendapatan yang tidak merata akan mengakibatkan terjadinya disparitas. Semakin besar perbedaan pembagian “kue” pembangunan, semakin besar pula disparitas distribusi pendapatan yang terjadi. Indonesia yang tergolong dalam negara yang sedang berkembang tidak terlepas dari permasalahan ini.
b.    Analisis Distribusi Pendapatan
1)    Distribusi Ukuran (personal distribution of income)
Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income) merupakan indikator yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga.
Yang diperhatikan di sini adalah seberapa banyak pendapatan yang diterima seseorang, tidak peduli dari mana sumbernya, entah itu bunga simpanan atau tabungan, laba usaha, utang, hadiah ataupun warisan.
Lokasi sumber penghasilan (desa atau kota) maupun sektor atau bidang kegiatan yang menjadi sumber penghasilan (pertanian, industri, perdagangan, dan jasa) juga diabaikan.
2)   Kurva Lorenz
Sumbu horisontal menyatakan jumlah penerimaan pendapatan dalam persentase kumulatif. Misalnya, pada titik 20 kita mendapati populasi atau kelompok terendah (penduduk yang paling miskin) yang jumlahnya meliputi 20 persen dari jumlah total penduduk. Pada titik 60 terdapat 60 persen kelompok bawah, demikian seterusnya sampai pada sumbu yang paling ujung yang meliputi 100 persen atau seluruh populasi atau jumlah penduduk.
Sumbu vertikal menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah (kelompok) penduduk tersebut. Sumbu tersebut juga berakhir pada titik 100 persen, sehingga kedua sumbu (vertikal dan horisontal) sama panjangnya.
Setiap titik yang terdapat pada garis diagonal melambangkan persentase jumlah penerimanya (persentase penduduk yang menerima pendapatan itu terdapat total penduduk atau populasi). Sebagai contoh, titik tengah garis diagonal melambangkan 50 persen pendapatan yang tepat didistribusikan untuk 50 persen dari jumlah penduduk.
Titik yang terletak pada posisi tiga perempat garis diagonal melambangkan 75 persen pendapatan nasional yang didistribusikan kepada 75 persen dari jumlah penduduk.
Garis diagonal merupakan garis "pemerataan sempurna" (perfect equality) dalam distribusi ukuran pendapatan.
3)   Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan
Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada.
4)   Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat
Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada.
Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan/ kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).
Angka ketimpangan untuk negara-negara yang ketimpangan pendapatan di kalangan penduduknya dikenal tajam berkisar antara 0,50 hingga 0,70.
Untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal relatif paling baik (paling merata), berkisar antara 0,20 sampai 0,35.
c.    Pertumbuhan dan Pemerataan dalam Konteks Pembangunan Ekonomi Indonesia Selama Ini
Simon Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) bahwa mula-mula ketika pembangunan dimulai, distribusi pendapatan akan makin tidak merata, namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi pendapatan makin merata.












Senin, 28 Oktober 2013

Cara Jitu memotivasi Diri

Diposting oleh Unknown di 15.28 0 komentar

Terkadang kita merasakan kejenuhan, tidak bersemangat dalam menjalani hidup. Kita merasa  butuh motivasi dari orang lain. Namun, untuk bisa berubah dan bersemangat, kuncinya ada pada diri kita sendiri. Tidak ada orang pun yang dapat member memotivasi lebih baik, selain diri kita sendiri. Ada beberapa tips untk memotivasi diri sendiri, yaitu:
1.  Menulis pada selembar kertas
Untuk memotivasi diri, harus memahami tujuan yang kita hendak capai, pilihan yang ditentukan harus realistis, sesuai logika.
Tempelakan lembaran kertas yang berisi tujuan pada ruangan yang sering kita lihat. Setiap hari, sekurang kurangnya baca tulisan itu 5 kali, agar selalu ingat dengan tujuan yang ingin dicapai dan memiliki motivasi diri untuk mencapainya.
Setiap hari pula, catatlah apa saja hal yang telah dilakukan untuk semakin mendekan kita untuk mencapai tujuan
2.  Berhenti Menunda
Menunda adalah kebiasaan yang bisa membunuh impian dan motivasi diri. Tetaplahbatas waktu untuk mencapai satu tujuan, dan berpeganaglah pada batas waktu yang kita tentukan sendiri. Namun berhati hatilah, jangan menentukan batas waktu yang membuat kita stress dan frustasi, dan hanya merusak mental kita.
3.  Reward Untuk Diri Sendiri
Cobalah untuk memberikan hadiah atau menghargai diri sendiriketika brhasil menyekesaikan satu bagian dalam perencanaan untuk mencapai tujuan kita. Ingat, jika kita telah menyelesaikan satu rencana , segeralha membuat rencana baru dan pastikan batas waktunya. Orang sukses akan selalu mencari cara untuk mengembangkan diri mereka dan hidup mereka.
4.  Bersenang senanglah

Dalam melakukan pekerjaan, kita sering dihadapkan dengan masalah ataupun baban pikiran yang berat. Asa humor yang cukup, bisa menjadi satu kunci sukeses. Cobalah untuk tidak terlalu berat memikirkan masalah pekerjaan.  

Kamis, 24 Oktober 2013

Tips Mata Tetap Segar

Diposting oleh Unknown di 21.14 0 komentar


Mata Lelah
Penyebab :Karena terlalu lama membaca /didepan computer
Solusi :      
1.  Buka mata dan arahkan bola mata ke atas
2.  Perlahanlahan arahkan bola mata  ke kanan
3.  Lihat kebawah
4.  Lalu arahkan bola mata ke kiri
5.  Dan kembali ketengah
Mata sembab
Penyebab :Habis menangis, bangun tidur
Solusi :      
1.  Kompres dengan es batu atau
2.  Mentimun
3.  Iris buah mentimun tipis – tipis yang sebelumnya telah dimasukkan dalam lemari es
4.  Tempelkan pada kedua mata dalam keadaan terepejam
Lingkaran hitam
Penyebab : kurang tidur, terlalu lelah/kurang darah
Solusi :      
1.  Kompres mata dengan kantung the yang telah dibasahi/
2.  Celupkan kapas kedalam air the kental tanpa gula dan tempelakan pada dua mata
Bekas kaca mata
Penyebab :Terlalu lama memakai kaca mata/bingkai kecil
Solusi :      
1.  Lakukan pemijatan mata
2.  Oleskan pelemban dikeliling mata dengan menggunkan dua jari, mulai dengan lekukan mata, kearah ujung mata luar lalu keatas sampai kembali kebagian semula
Selamat mencoba….. ^^
 

IrmaNisa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting