Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Manajemen Diri

Diposting oleh Unknown di 05.35 0 komentar
Faktor sukses dalam mengembangkan diri
Kalau melihat pengalaman banyak orang dan juga teori-teori yang ada, ternyata keberadaan bakat, kecerdasan, kepribadian, dan lain-lain itu perananya masih pada tingkat permukaan dari yang kita butuhkan untuk menjadi sosok yang kita inginkan. Karena itu, tidak semua orang yang merasa punya bakat di seni akan menjadi seniman handal. Tidak semua orang yang merasa dirinya ekstrovert itu menjadi network builder yang handal.
Untuk menjadi sosok yang handal seperti yang kita bayangkan itu dibutuhkan, apa yang oleh para pakar kepribadian, disebut dengan "success factors" (faktor sukses yang paling menentukan). Faktor sukses ini, adilnya Tuhan, dimiliki oleh semua orang dan semua orang sudah tahu tentang hal ini. Yang membedakan orang adalah kemampuannya untuk menjalankan. Dari sejarah para nabi, para pemimpin, atau siapa saja yang berprestasi di bidangnya, ada sejumlah faktor sukses yang mutlak dimiliki. Sejumlah faktor sukses itu antara lain:
1)    Memiliki sasaran yang jelas. Kita mungkin menyebutnya dengan istilah visi, tujuan, objektif, cita-cita, obsesi, atau whatever yang kita mau. Yang jelas, maksud dari sasaran di sini adalah bayangan batin tentang sosok yang kita inginkan dari diri kita sejelas mungkin. Ini misalnya saja anda ingin menjadi penulis, dokter, manajer, direktor, psikolog, dan lain-lain.
2)   Komitmen yang kuat, kemauan yang keras, dorongan yang kuat, kesungguhan, atau apapun namanya yang maknanya sama. Dimanapun kita menjumpai ada orang yang punya prestasi bagus, mau itu nabi atau orang biasa, pasti memiliki ini. Mau kita punya bakat apapun, kecerdasan apapun, tapi kalau komitmen ini hilang, hilang juga bakat dan kecerdasan kita.
3)   Kelayakan untuk dipercaya oleh orang lain. Ini bisa berbentuk ketaatan moral atau skill yang kita miliki. Dimanapun kita menjumpai ada orang yang punya prestasi bagus pasti punya sifat-sifat atau kemampuan yang layak dipercaya oleh orang lain. Orang percaya sama kita itu kalau tidak karena moral ya karena skill.
4)   Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Ini mencakup antara lain: kemampuan membuka hubungan baru, kemampuan mempertahankan hubungan yang sudah ada, dan kemampuan mengatasi konflik atau persoalan secara positif. Dimanapun kita menjumpai orang yang berprestasi bagus di bidangnya pasti memiliki ini. Bahkan ada beberapa pengusaha yang saya kenal sampai bisa mempertahankan hubungan sampai ke anak-anaknya.
5)   Kemampuan untuk terus belajar (learning ability). Belajar di sini maksudnya adalah mengubah prilaku ke arah yang lebih baik berdasarkan praktek sehari-hari. Entah itu melalui buku, melalui pengalaman, melalui teori, melalui orang langsung atau apapun. Stephen Covey menyebutnya dengan istilah mengasah gergaji (sharpening the saw). Dimanapun kita melihat orang yang canggih pasti punya ini. Mereka belajar dari masalah atau belajar dari caranya dalam merealisasikan mimpi-mimpinya


Manajemen Risiko

Diposting oleh Unknown di 04.42 0 komentar



Secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan dimana terdapat kemungkinan yang merugikan. Risiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan.menurut Wideman, ketidak pastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (Opportunity), sedangkan ketidak pastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko (Risk).
Banyak orang berpendapat, bahwa salah satu ciri entrepreneur yaitu berani mengambil resiko. Resiko keluar dari zona kenyamanan yang didapat selama ini, dan masuk ke dalam zona baru yang penuh dengan ketidakpastian. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, seorang entrepreneur sukses bukanlah orang yang berani mengambil resiko saja. Tapi mereka juga harus bisa mengelola segala resiko menjadi sebuah peluang baru yang menguntungkan.

Untuk memulai usaha memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Dibutuhkan keberanian dan strategi bisnis yang matang, sebelum akhirnya masuk ke zona yang serba belum pasti ini. Semua peluang bisnis memang memiliki resiko, walaupun tingkat resiko yang dimiliki berbeda-beda. Ada usaha yang beresiko besar adapula yang resikonya hanya kecil, namun bukan berarti resiko-resiko tersebut tidak bisa diatasi dan diminimalisir. Bagaimana cara mengatasi resiko bisnis? Berikut langkah-langkah yang perlu Anda perhatikan, untuk mengurangi resiko.

Sebelum memulai usaha, sebaiknya Anda melakukan riset mengenai hambatan-hambatan yang dimungkinkan muncul ditengah perjalanan usaha. Dengan begitu Anda dapat menyiapkan strategi sedini mungkin, untuk mengantisipasi hambatan yang dimungkinkan ada. Misalnya saja resiko persaingan bisnis yang dimungkinkan semakin meningkat.

Pilihlah peluang bisnis sesuai dengan skill dan minat yang Anda miliki, jangan sampai Anda memulai usaha hanya karena ikut-ikutan trend yang ada. Dengan memulai usaha sesuai dengan skill dan minat, setidaknya Anda memiliki bekal pengetahuan dan keahlian untuk mengurangi dan mengatasi segala resiko yang muncul di tengah perjalanan Anda. Hindari peluang usaha yang tidak Anda kuasai, ini dilakukan agar Anda tidak kesulitan dalam mengatasi segala resikonya.

Carilah informasi mengenai kunci kesuksesan bisnis Anda. Hal tersebut bisa membantu Anda untuk menentukan langkah-langkah apa saja yang bisa membuat usaha Anda berkembang, dan langkah apa saja yang tidak perlu dilakukan untuk mengurangi munculnya resiko yang tidak diinginkan.

Sesuaikan besar modal usaha yang Anda miliki dengan resiko usaha yang Anda ambil. Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengambil peluang usaha yang beresiko besar, jika modal usaha yang Anda miliki juga masih terbatas.

Kesuksesan bisnis bisa dibangun dengan adanya keteguhan hati yang didukung kreatifitas. Dengan keteguhan hati dalam mencapai kesuksesan serta kreatifitas untuk mengembangkan usaha dengan ide-ide baru. Maka segala resiko yang muncul bisa Anda atasi dengan baik.

Cari informasi tentang prospek bisnis tersebut sebelum mengambil sebuah resiko. Saat ini banyak peluang usaha yang tiba-tiba booming, namun prospek bisnisnya tidak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan bulan saja, bisnis tersebut surut seiring dengan bergantinya trend pasar. Sebaiknya Anda menghindari jenis peluang usaha seperti itu, karena resikonya cukup besar.

Ketahui seberapa besar tingkat kebutuhan masyarakat akan produk Anda. Semakin besar tingkat kebutuhan konsumen akan sebuah produk, maka akan memperkecil resiko bisnis tersebut. Setidaknya resiko dalam memasarkan produk.

Dari informasi diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa semua resiko bisnis bisa diatasi dengan kejelian, ketekunan dan kreatifitas Anda. Oleh karena itu, tingkatkan kemampuan dan pengetahuan Anda dalam menjalankan usaha. Agar segala resiko yang muncul ditengah perjalanan, tidak sampai merugikan bisnis Anda. Sekian informasi dari kami, semoga informasi ini bisa memotivasi Anda agar tidak takut lagi dengan resiko menjalankan usaha. Salam sukses.

Manajemen Diri

Diposting oleh Unknown di 04.38 0 komentar
Cara membaca Teori Pengembangan Diri dan cara menyikapinya
1.   Potensi manusia itu tak terbatas. Potensi di sini makudnya adalah berbagai kapasitas di dalam diri kita yang masih berbentuk bahan baku. Namanya juga bahan baku. Bahan baku itu bisa diolah menjadi bentuk apa saja, tergantung proses pengolahannya. Karena itu, kata Prof. Howard Gardner, istilah-istilah yang ia kemukakan dalam teorinya tentang kecerdasan itu bukanlah domain bawaan yang sudah baku dan begitu adanya, melainkan sebuah "new construct". Artinya, orang akan memiliki kecerdasan Intrapersonal apabila potensi yang dikembangan selama ini lebih banyak mengarah pada terbentuknya kecerdasan ini. Kecerdasan Intrapersonal yang ia miliki adalah bentukan baru (new construct) dari diri orang itu.
Dengan kata lain, karena potensi yang kita miliki itu hanya sedikit sekali yang bisa dijelaskan dengan istilah-istilah bahasa, maka jangan sampai kita menggunakan istilah-istilah itu untuk membatasi diri. Pilihan yang bisa kita ambil adalah, kita bisa menjadikan pekerjaan atau penugasan yang diberikan ke kita sebagai ruang atau wilayah untuk mengungkap berbagai potensi yang belum ada bahasanya. Sangat mungkin sekali kita bisa menemukan potensi dasar yang bisa dijadikan keunggulan.

2.    Kemampuan dasar manusia itu punya sifat fleksibel, dalam arti bisa diterapkan ke berbagai pekerjaan atau profesi apapun. Dari penjelasan para ahli dapat kita simpulkan bahwa yang mereka katakan tentang bakat, kecerdasan, kepribadian, dan lain-lain, itu sebagian besarnya tidak terkait dengan pekerjaan, profesi atau sebutan tertentu, melainkan lebih terkait dengan peranan yang bisa kita lakukan. Mengacu pada pendapat ini berarti di semua pekerjaan atau profesi atau jabatan yang ditugaskan ke kita, pada dasarnya masih tetap ada peranan-peranan tertentu yang match dengan bakat, kecerdasan, atau kepribadian kita. Salah seorang kenalan saya tidak bisa berartikulasi secara verbal layaknya seorang network  builder yang kita bayangkan. Tetapi prakteknya tidak begitu.
Artinya, terkadang terlalu dini kita menyimpulkan tidak cocok jadi marketer, network builder, negosiator, dan lain-lain hanya karena kita merasa sebagai orang introvert atau  intrapersonal. Kemungkinan besar yang terjadi adalah, kita belum menemukan peranan yang benar-benar pas untuk kita mainkan di pekerjaan itu. Untuk bisa menemukannya memang butuh experiencing.

3.    Acuan untuk mengembangkan-diri. Pada prakteknya memang yang akan terjadi adalah, ada peranan tertentu yang kita mainkan dengan bagus dan ada yang kurang atau belum bagus. Yang pertama kita sebut keunggulan dan yang kedua kita sebut kelemahan. Ini perlu kita akui secara fair. Memang tidak ada manusia yang sempurna di segala bidang.
Nah, teori-teori yang sudah diungkap para ahli dengan susah payah itu akan lebih bagus kalau kita jadikan acuan untuk mengembangkan diri berdasarkan perkembangan keadaan kita. Misalnya untuk keperluan melanjutkan kuliah, melakukan otodidak keahlian, dan lain-lain.

4.    Skala kompetensi. Ada skala kompetensi tertentu yang sering kita asumsikan sebagai bakat bawaan atau kecerdasan bawaan, padahal itu bukan. Contoh yang paling tepat di sini adalah entrepreneurship (kewirausahaan). Banyak yang mengasumsikan dirinya berbakat untuk menjadi pengusaha atau sebaliknya.
Padahal kalau kita lihat di teorinya dan di prakteknya, entrepreneurship itu skala kompetensi yang paling tinggi. Siapapun bisa menjadi entrepreneur asalkan yang bersangkutan mengasah sifat, skill, atau kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur. Ini misalnya saja kemampuan mengkalkulasi peluang dan ancaman, keuntungan dan kerugian, efektivitas dan efisiensi, pendelegasian, menciptakan gagasan yang layak jual, dan seterusnya.  Soal bidangnya apa, cara kerjanya bagaimana, tekniknya seperti apa, ini soal lain.
Karena untuk menjadi pengusaha itu bisa dilakukan semua orang, makanya sekarang ini muncul berbagai sebutan. Ini misalnya saja pengusaha alamiah, pengusaha ilmiah (pengusaha yang mendapatkan pendidikan usaha dari pendidikan formal), ada corporate entrepreneur, social entrepreneur, dan lain-lain. Jadi, menjadi pengusaha adalah soal melatih jiwa, naluri, dan skill.

5.    Jangan menyimpulkan diri sendiri dengan batasan-batasan yang makin membatasi (fixed ability). Ini yang disarankan oleh seorang pakar Psikologi dari Yale University, Stenberg. Kemampuan yang kita miliki itu pada dasarnya, menurut dia, adalah developing ability. Berkembang di sini maksudnya adalah terus meningkat atau terus meluas berdasarkan usaha-usaha yang kita lakukan.

Selasa, 29 Oktober 2013

KEPEMIMPINAN

Diposting oleh Unknown di 09.15 0 komentar
Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang kepemimpinan dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara  berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
Sejarah timbulnya kepemimpinan, sejak nenek moyang dahulu kala, kerjasama dan saling melindungi telah muncul bersama-sama dengan peradapan manusia. Kerjasama tersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan binatang dan menghadapi alam sekitarnya. Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi kerjasama antar manusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin dari kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga ada aturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus lahir dari keturunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai pengaruh dan lain-lain. Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki syarat-syarat yang tidak ringan, karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.

Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak definisi kepemimpinan yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Definisi Kepemimpinan menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. Kepemimpinan menurut Young (dalam Kartono, 2003) lebih terarah dan terperinci dari definisi sebelumnya. Menurutnya kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Dalam teori kepribadian menurut Moejiono (2002) memandang bahwa kepemimpinan tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang kepemimpinan sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Pengentian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan pemimpin artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. (Mefta Thoha, 1983)
Dalam mendeteksi siapa si pemimpin ada 2 kriteria (Soejono Trimo, 1986)
1.     Jumlah pengaruh orang atas anggota dan kelompoknya.
2.    Sikap para anggota kelompok terhadap sesamanya
Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan tampilnya seseoang /beberapa orang pememimpin dalam suatu kelompok:
1.     Pertumbuhan dan kekomplekan kelompok itu.
2.    Bila kelompok menghadapi krisis.
3.    Bila kelompok dalam keadaan tidak stabil.
4.    Bila pemimpin lama gagal menjalankan fungsinya.
5.    Timbulnya kebutuhan-kebutuhan pribadi pada anggota kelompok.

Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas dalam rangkah mempengaruhi orang-orang agar mau bekerjasama mencapai suatu tujuan yang memang
diinginkan bersama. (Susilo Martoyo, 1990).

Dalam organisasi/perusahaan yng besar, kepemimpinan terbagi dalam 3 stara utama, yakni:
1. Top management: yang tekanan tugasnya pada pelaksanaan administrasi dalam menyusun rencana,policy dan laporan terdiri dari  pada direksi.
2. Middle management:  eksekutif pelaksanaan rencana dan policy organisasi terdiri dari kepala bagian.
3. Operating management: eksekutif dilapangan yang terdiri dari kepala-kepala unit pelaksanaan, para pengawas dilapangan.
Dalam organisasi formal kekuasaan dan tanggung jawab manajerial dapat di bagi dalam 2 komponen (areas) yang besar, yakni:
Administrasi
Pelaksana (execution)
Dengan pembagian kegiatan-kegiatan mereka sebagai berikut:
Dewan Direktur
Direktur /Presiden
Perusahaan
Wakil Direktur
Managers (Kepala Bidang/Bagian)
Line Supervisor
(pengawas)
Foreman (mandor)

Seorang pemimpin ataupun exsekutif seyogianya memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar:
1. Teknis : paham dan kompeten dalam kegiatan atau area tertentu yang menyangkut prosedur, teknik dan prosedur pengelolaanya.
2. Menguasai humor skills: mampu bekerja sama dengan orang lain sebagai bagian dari kelompoknya.
Keterampilan konseptual, sebagai organisasi sebagai suatu system dalam berbagai fungsi organisasi saling tergantung.
3. Komunikatif, terampil berkomunisasi dengan orang lain.

Ciri-Ciri Pemimpin
Sondang P. Siagian  mencirikan kepemimpinan tersebut sebagai berikut:
   Pendidikan umum yang luas. Seorang pemimpin adalah seorang generalis yang baik sehingga mempunyai kemampuan untuk mengembangkan managerial skill yang di tuntut oleh tugasnya.
   Kemampuan berkembang seara mental. Seperti halnya dengan seseorang, termasuk pemimpin harus tumbuh secara mentalsehingga terhindar dari proses stagnasi dalam kehidupan kepemimpinan.
   Ingin tau yang tetap dalam dunia adalah perubahan. Kesadaran akn perubahan-perubahan tersebut akan menghantarkan seorang pemimpin menjadi kreatif  dan inovatif.
   Kemampuan analisis. Syarat sukses seorang pemimpin adalah kemampuanya dalam menganalisis situasi yang dihadapi dengan cermat mantap dan matang.
   Memiliki daya ingat yang kuat . kekuatan daya ingat yang mantap akan mampu menghantarkan pemimpin tersebut menjadi cermat dalam proses dan menjaring informasi yang relevan.
    Kapabelitas integratif. Dengan Kapabelitas integratif yakni kemampuan yang mencakup berbagai aspek sangat membantu  pemimpin tersebut untuk menggerakan roda administrasi organisasi.
   Keterampilan berkomunikasi. Efektivitas seorang pemimpin adalah sangat ditentukan oleh keterampilannya dalam berkomunikasi.
   Keterampilan mendidik. Pemimpin juga seorang pendidik ketika bawahan menghadapi kesulitan bertugas, ia cenderung minta petunjuk kepada
atasanya tentang cara memecahkan persoalan tugasnya.
   Rasionalitas dan objektivitas. Pemimpin harus rasional dan objektif tidak boleh emosional sehingga keputuan yang akan di ambil selalu tpat.
10. Pragmatis. Pemimpin sellalu menghendaki agar keputusanya bias
dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada.
11.  Sense of urgency. Seorang pemimpin mesti mampu mengatur prioritas-prioitas, mana yang penting dan mana yang tidak penting.
12. Sense of cohesiveness. Merasa satu dengan yang dipimpin, kolega dan atasan, sangat penting untuk pengembangan kerja sama, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi.
13. Sense of relevance. Pemimpin perlu selalu mengkaitkan keputusan dengan tujuan yang hendak dicapai/persoalan yang akan dipecahkan.
14. Kecerdasan. Syarat mutlak seorang pemimpin agar bias diteladani adalah adanya nuansa kewajaran dan kesederhanaan dalam perilakuke seharianya.
15. Keberanian. Keberanian adalah modal bagi pemimpin dalam menghadapi segala tugas dan tanggung jawab yang dbebankan kepadanya.
16. Adaptabelitas dan fleksibilitas. Pemimpin tersebut harus menghindarkkan diri dari sifat kekakuan karena akan mengganggu kinerja kepemimpinanya.
17. Kemampuan mendengar. Pemimpin harus siap mendengar saran/pendapat orang lain.
18. Ketegasan. Pemimpin tersebut mesti tegas dalam mengahdapi bawahan serta ketidaktentuan demi stabilitas organisasi.
Teori-Teori Lahirnya Kepemimpinan
Ada tiga teori yanga membahas tentang timbulnya kepemimpinan.
       1.      Teori genetis (Hereditary theory)
Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan denagan bakat-bakat kepemimpinan”leaders are born and not made”
      2.      Teori sosial
Merupakan kebalikan dari teory genetis, yaitu bahwa setiap orang diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
      3.      Teori Ekologis
Bahwa seorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia pada waktu lahirnyatelah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat itu kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang tertur dan
pengalaman-pengalaman yang memungkinkan untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat tersebut.

Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah perilaku yang ditunjukan oleh pemimpin dalam mempengaruhi orang lain. Pola perilaku tersebut bias dipengaruhi oleh beberapa factor seperti nilai-nilai, asumsi, persepsi, harapan, maupun sikap yang ada dalam diri pemimpin. Berbagai kepemimpinan tentang gaya kepemimpinan yang dilakukan para ahli mendasarkan pada asumsi bahwa pola perilaku tertentu pemimpin dalam mempengaruhi bawahan ikut menentukan efektifitasnya dalam memimpin.

Kontinum kepemimpinan
        Teori kontimum tentang gaya kepemimpinan ini merupakan teori klasik yang diperkenalkan oleh Robert Tannenbaum dan Warren Schmidtmengacu pada dua bidang pengaruh yang ekstrim. Yang pertama adalah pengaruh penggunaaan kewenangan oleh pemimpin, sedangkan yangke dua adalah oleh pengaruh kebebasan dari bawahan. Pada kedua bidang pengaruh tersebut Nampak kecenderungan yang berhubungan dengan aktivitas pemimpin dalam pengambilan keputusan.  


 

IrmaNisa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting